Menolong tanpa Menolong

Sangat menarik melihat fenomena akhir-akhir ini di kalangan anak muda mengenai kesukarelawanan atau volunteering. Begitu banyak organisasi atau komunitas sosial yang menawarkan dan mendorong gerakan ini. Sebut saja Indonesia Mengajar, Future Leaders Anti Corruption, Indonesia Youth Volunteer dan berbagai organisasi lain. Dimana para Volunteer bisa jadi tidak mendapat apa-apa, kecuali pengalaman dan ilmu yang luar biasa.

Tetapi yang menarik adalah apa motivasi seseorang mengikuti kegiatan ini, dimana mereka tidak dibayar dan dapat secara ikhlas melakukan kegiatan tersebut tanpa imbalan apapun. Banyak jawaban atas pertanyaan ini, antara lain “karena ingin membantu sesama”, “karena panggilan jiwa”, “karena memang suka”. Mengapa pertanyaan ini menjadi sangat menarik, karena saya tertarik dengan suatu pemikiran bahwa tingkatan tertinggi dalam melakukan kegiatan sosial adalah saat memberikan pertolongan, memberikan ilmu tanpa merasa telah memberi pertolongan ataupun ilmu.

Motivasi di balik ini sangat penting, karena akan mempengaruhi konsep berpikir kita setelah melakukan perbuatan tersebut. Misal, dari perbuatan volunteering menolong korban bencana, yang dimotivasi oleh rasa kasihan penolong terhadap orang lain. Motivasi tersebut ditakutkan dapat membuat para penolong menjadi besar kepala alias sombong karena merasa telah menolong dan merasa telah memberi utang budi terhadap korban. Karena saat seseorang merasa kasihan terhadap orang lain yang lebih lemah, bisa dikatakan orang tersebut sombong karena dia merasa lebih baik.

Konsep volunteering yang penulis suka adalah volunteering tanpa merasa telah melakukan volunteering. Menolong seseorang tanpa merasa telah menolong seseorang. Sederhananya, seperti saat kita melakukan kegiatan donor darah. Saat melakukan donor darah konsep berpikir yang harus dibangun adalah donor darah karena kesehatan bukan karena menolong orang lain. Dengan konsep berpikir seperti ini, maka kita dapat menginjak-injak kesombongan kita.

Begitu juga dengan kegiatan volunteering. Konsep berpikir yang dibangun adalah ‘karena kita senang’ dengan kegiatan tersebut. Bukan karena merasa ingin membantu seseorang atau karena merasa harus melakukan empowering masyarakat sebagai manusia.

Tetapi penulis sadar hal ini sangatlah sulit untuk dilakukan. Tapi, bukan berarti konsep ‘harus menolong seseorang karena kasihan’ adalah salah. Tetapi menurut penulis saat berpikir melakukan kegiatan yang kita senang dan ternyata kegiatan tersebut menyenangkan dan dapat membantu orang lain, maka terdapat rasa yang luar biasa di dalamnya.

Oleh Ashari Setya Marwah Adli
Klik disini untuk melihat profil penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Silakan unggah foto